Kamis, 17 Maret 2011

Empat PMA Tutup Pabrik di Bintan

BINTAN – Sekitar empat perusahaan asing yang bergerak di industri manufaktur seperti tekstil yang berasal dari beberapa negara antara lain, Jepang, Jerman dan Malaysia akan menutup pabriknya di kawasan industri Lobam Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) disebabkan minimnya order yang menyebabkan perusahaan terus menerus mengalami kerugian.




Empat perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) yang dimaksud adalah PT Gimmil Industrial, PT Doelken Indonesia, PT Nidec Indonesia dan PT German Plastic Technologies. Keempat perusahaan itu bergerak di dibidang manufaktur yang memproduksi aneka produk elektronik, tekstil dan plastik.

Salah satu perusahaan yakni PT Gimmil Industrial yang memproduksi pakaian merek Nike untuk kebutuhan ekspor dipastikan menutup pabriknya pada 1 April 2011 ini. Sedangkan tiga perusahaan lainnya akan menyusul.

Kepala Personalia PT Gimmil Industrial, Binner Pasaribu mengatakan, perseroan memang benar akan menutup pabriknya di kawasan industri Lobam Bintan, berdasarkan hasil rapat yang dihadiri manajemen perusahaan yang diwakili oleh Operational Manager yakni Mr Wong, Michael sebagai Factory Manager, Bi Kiong sebagai General Manager dan perwakilan personalia serta serikat pekerja pada hari Rabu (2/3).

Penghentian operasional pabrik, kata dia tidak bisa dihindari karena selama dua tahun berturut-turut perseroan selalu mengalmi kerugian disebabkan berbagai alasan seperti minimnya order dari mitra.

“Operasional pabrik akan ditutup 1 April ini dan manajemen berjanji akan memenuhi tanggungjawab atas seluruh pekerja yang berjumlah 1.227 orang untuk membayar hak haknya sebagai pekerja sebagaimana diatur dalam Undang Undang RI,” katanya, Kamis (3/3).

Sebelum dilakukan pembayaran atas hak hak pekerja, perseroan akan melakukan audit oleh akuntan publik pada Kamis ini yang ditunjuk oleh perusahaan untuk melakukan pengumpulan data untuk disampaikan kepada karyawan maupun manajemen.

Untuk itu, perseroan minta kepada pekerja untuk sabar dan memahami situasi yang sedang terjadi saat ini dan menghindari provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan unjuk rasa.

Salah satu Pengurus Komisariat (PK) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) PT Gimmil Industrial, Patar Sianipar mengatakan pihaknya memang pernah diajak berdikskusi bersama manajemen PT Gimmil Industrial terkait rencana penutupan pabriknya.

Pihak manajemen, katanya sudah mengemukakan alasan penutupan dan memang kondisi itu tidak bisa dihindari karena perseroan terus mengalami kerugian. Untuk itu, para pekerja akan bersabar untuk mendapatkan hak haknya karena manajemen sudah menjamin hak hak pekerja akan dibayarkan.

Senior Manajer Kawasan Industri Lobam (PT BIIE Lobam), Jamin Hidajat, membenarkan adanya perusahaan yang akan tutup di kawasan KIB Lobam. Namun demikian dari empat perusahaan yang dikonfirmasikan akan tutup, baru satu perusahaan yakni PT Gimmil Industrial yang dipastikan tutup sedangkan tiga PMA lainnya memberitahukan secara resmi rencana penutupan pabriknya dari Lobam.

Menurutnya, meski ada perusahaan yang akan menutup pabriknya namun secara umum kawasan industri Lobam atau investasi di Bintan masih menarik bagi investor asing.
Itu dibuktikan dengan adanya satu perusahaan besar yang bergerak di industri galangan kapal yakni PT Singa Tech akan membuka pabriknya di Lobam.

“Saat ini PT Singa Tech sedang mengerjakan konstruksi pabriknya,” kata dia.

Perusahaan lainnya yang berada di Kawasan Industri Bintan Lobam juga ada yang melakukan perluasan, pengembangan usaha. Meski demikian, untuk menjamin kelangsungan investasi, pemerintah harus terus memperbaiki pelayanan birokrasi serta menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Kepala Badan Pengusahaan FTZ Bintan, Mardhiah mengatakan, saat ini terdapat lebih dari 117 proposal investasi asing ke Bintan. Namun sebagian besar memang belum merealisasikannya karena berbagai pertimbangan.

“Dari 117 proposal investasi di Bintan baru 61 perusahaan merealisasikan,” kata dia.
Ke 61 PMA itu bergerak di berbagai sektor usaha antara lain pariwisata dan manufaktur.

BP Bintan sendiri sudah menerbitkan sekitar 1.063 ijin usaha selama Januari-Desember 2009, lalu pada 2010 telah menerbitkan 1.556 ijin usaha. Untuk tahun 2011 ini diperkirakan ratusan ijin masih akan dikeluarkan karena ketersediaan lahan masih cukup.

Di kawasan industri Galang Batang, masih tersedia 1775 hektar tanah, kemudian di Bintan Timur tersedia 812 hektare lahan. Sedangkan di kawasan Industeri lobam, dari 4.000 hektar lahan perindustriannya sudah dibebaskan PT Buana Mega Wisatama (BMW) sampai saat ini, baru 300 hektar yang digunakan. Kemudian di kawasan wisata Lagoi, terdapat 23.000 hektar lahan yang dipersiapkan untuk investor. (gus).

◄ Newer Post Older Post ►